Saat sesi tanya jawab kajian Ushul as-Sittah (enam kaidah penting dalam beragama) di Masjid Nabawi, Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili – hafizhahullah – mendapatkan sebuah pertanyaan sebagai berikut:
Banyak dari kalangan penuntut ilmu enggan mendakwahkan ilmu
yang didapatnya, saat kembali ke negerinya. Mereka berdalih dengan
ayat,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah : 44).
“Saya masih banyak kekurangan, dan masih melakukan sebagian
perbuatan dosa. Aku merasa tidak pantas untuk berdakwah, sementara
diriku sendiri masih banyak kekurangan”, demikian alasan mereka. Padahal
ia tahu kalau di negerinya tersebut banyak tersebar kemungkaran. Apa
nasehat Anda wahai Syaikh -semoga Allah menjaga Anda-.
Syaikh menjawab:
Ini adalah tipuan setan. Para ulama menjelaskan makna firman Allah ta’ala,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah : 44).
bahwa maknanya adalah,
ما لامهم على الدعوة.. ما لامهم على أمر الناس في الخير، وإنما لامهم على التقصير
“Allah mencela mereka bukan karena berdakwah dan beramar makruf, tapi karena bersikap meremehkan terhadap diri sendiri.”
Sebagian ulama muhaqqiqin lainnya menjelaskan, Allah ‘azza wa jalla
telah mensyariatkan dakwah atau mengajak manusia kepada kebaikan dan
telah mensyariatkan pula kepada manusia untuk mengamalkan kebaikan.
Apabila dia lemah dalam hal mengamalkan kebaikan, maka jangan ia
mengumpulkan keburukan dengan keburukan yang lain, yaitu meninggalkan
dakwah orang lain kepada kebaikan. Seandainya dakwaan semacam ini benar,
tentu tidak ada seorang pun yang pantas mengajak manusia kepada
kebajikan. Karena tak seorang manusia kecuali ia memiliki kekurangan.
Akantetapi bila ia jujur dalam berdakwah, ikhlas dalam
mengajak manusia kepada kebaikan, maka sesungguhnya Allah menerima amal
kebaikannya berupa ajakannya kepada manusia untuk melakukan amal
kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran. Semoga hal ini menjadi
penghapus dosanya atau memperkecil hukumannya atas kekurangan yang ada
pada dirinya (tidak mengamalkan yang ia perintahkan).
Meski tidak dapat dipungkiri, ia tercela disebabkan
kekurangan tersebut. Akan tetapi bukan berarti kekurangannya dalam hal
amalnya, menjadi alasan untuk meraih kekurangan pula dalam dakwahnya.
***
Simak rekamannya di link berikut: https://www.dropbox.com/s/ ult5g0hwq8o44ut/Fatawa% 20Syaikh%20Ibrahim%20Ar- Ruhaili?dl=0, pada menit ke 9.43.
Diterjemahkan dan didengarkan langsung oleh: Ahmad Anshori

Posting Komentar