
Pendahuluan
Tidak diragukan lagi menuntut ilmu merupakan amalan yang sangat mulia. Bahkan merupakan kewajiban setiap Muslim. Banyak sekali ayat maupun hadits Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan seorang ulama dan penuntut ilmu. Mereka adalah sebaik baik makhluk. Kesaksian mereka atas keesaan Allah disejajarkan dengan kesaksian Allah dan para malaikatnya. Derajat mereka ditinggikan. Para malaikat serta makhluk hidup yang lainnya senantiasa mendoakan mereka. Bahkan Allah menjadikan ukuran kebaikan seseorang dengan ilmu yang dia miliki. Cukuplah kemudahan meraih syurga yang dijanjikan bagi mereka, menjadi motivasi kita untuk mengikuti jejak mereka.
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam nash-nash yang ada adalah ilmu syar’i. Ilmu yang berlandaskan dari Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafusshalih.
Dan diantara semua ilmu syar’i yang ada, ilmu akidah (atau disebut juga
dengan ilmu tauhid) menempati posisi yang pertama. Hal ini dikarenakan
objek pembahasannya yang berkaitan dengan Zat Allah dan peribadahan
kepadanya. Sementara tidak ada yang lebih dibutuhkan oleh jiwa manusia
melebihi pengenalannya terhadap Zat Allah ta’ala ( (ma’rifatullah). Dan –sebagaimana kata para ulama-, “keutamaan suatu ilmu bergantung dengan keutamaan objek yang dikaji dalam ilmu tersebut.”
Hukum Belajar Ilmu Akidah
Mempelajari Ilmu akidah secara umum hukumnya wajib
bagi seorang Muslim. Namun para ulama membaginya menjadi dua bagian.
Yang bersifat fardhu ‘ain, yaitu ilmu akidah secara global (Ijmaali). Dan yang bersifat fardhu kifayah, berupa rincian rincian ilmu akidah (Tafshiili).
Akidah ahlu sunnah secara global seperti keyakinan adanya Allah,
malaikat, para nabi, dan kitab kitab yang diturunkan, serta akan
datangnya hari kiamat dan sebagainya. Dalam hal ini wajib bagi setiap
muslim untuk mempelajari dan mengetahui serta meyakininya, dan berdosa
jika ditinggalkan. Adapun rincian hal hal tersebut, seperti mengenal
nama nama malaikat dan tugas tugasnya atau rincian kejadian di hari
kiamat dan sebagainya, maka hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah.
Jika sebagian kaum Muslimin sudah mempelajarinya dengan benar, maka
menjadi gugur kewajiban kaum muslimin yang lain untuk mempelajarinya.
Namun ada dua kondisi dimana mempelajari rincian akidah menjadi fardhu ain. Yang pertama
ketika seseorang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk
mempelajarinya. Dalam kondisi seperti ini, tidak diperbolehkan baginya
meninggalkan kesempatan mempelajari rincian akidah yang benar. Seperti
seseorang yang berkesempatan menempuh pendidikan di timur tengah, dan
disana diajarkan kajian akidah secara rutin, maka ketika itu diwajibkan
baginya mengikuti dan mempelajari akidah tersebut. Namun bagi masyarakat
awam misalnya, yang tidak memiliki kesempatan atau kemampuan
mempelajari akidah, maka cukup baginya mengetahui akidah ahlu sunnah
secara global.
Adapun keadaan yang kedua, mempelajari rincian
akidah menjadi wajib ketika hal itu menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai
contoh, di suatu tempat yang disana tersebar aliran sesat, sehingga
banyak orang yang rusak akidahnya, maka setiap orang wajib membentengi
dirinya dengan ilmu akidah yang berkaitan dengan penyimpangan yang
terjadi. Yang dengan itu dia bisa menangkal dan selamat dari paham sesat
tersebut. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana tersebar aliran
syiah, wajib baginya untuk mempelajari syubhat syubhat syiah dan
bantahannya. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana banyak
penyembah kuburan, wajib bagi nya untuk mempelajari tentang syirkul
qubur (syirik yang berkaitan dengan kuburan) dan seterusnya.
Dan berikut beberapa point yang menunjukan pentingnya mempelajari ilmu akidah ;
Kewajiban pertama dan terakhir setiap muslim
Para ulama sepakat bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah membaca dua kalimat syahadat yang merupakan kalimat tauhid.
Dan mereka juga sepakat, bahwa seseorang yang sudah melakukannya
sebelum baligh tidaklah diperintahkan untuk memperbaharui dengan
mengulanginya kembali ketika sudah baligh.
Begitu juga seorang yang kafir, ketika hendak masuk
islam kewajiban yang pertama kali dibebankan kepadanya adalah
mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagaimana ditunjukan oleh hadits
riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘Anhu ke Yaman beliau bersabda, “Wahai
Mu’adz sesungguhnya engkau akan menemui kaum ahli kitab. Maka hendaklah
hal yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah…” .
Selain kewajiban yang pertama tauhid juga kewajiban
akhir seorang muslim. Seseorang yang meninggal dalam keadaan bertauhid
akan masuk syurga. Namun sebaliknya jika seseorang meninggal dalam
keadaan syirik yang membatalkan tauhidnya, maka dia akan masuk neraka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya laa ilaaha illallah dia akan masuk syurga”. Beliau juga bersabda, “talkinlah seorang yang hendak meninggal dari kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallahu..” . Maka tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan yang terakhir setiap Muslim.
Ilmu tauhid dibutuhkan di alam kubur
Bukan hanya di dunia, Ilmu tauhid juga dibutuhkan hingga di alam kubur untuk menjawab fitnah kubur berupa 3 pertanyaan malaikat.
Sebagaimana diketahui bahwa seorang yang sudah meninggal akan
mendapatkan fitnah kubur berupa pertanyaan malaikat. Tentang siapa
Tuhan, Nabi, dan Agama mereka. Tiga pertanyaan ini hanya akan dijawab
oleh mereka yang memiliki akidah yang benar tentang tiga hal tersebut.
Akidah dengan amalan ibarat sebuah pondasi dari sebuah bangunan
Tanpa akidah yang benar suatu amalan tidak akan berguna. Allah ta’ala berfirman, “Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Qs. Al Furqon : 23). Dan inilah salah satu alasan kenapa Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di permulaan dakwahnya, tiga belas tahun di Makkah, hanya berdakwah
kepada tauhid. Sampai ketika tauhid ini sudah menancap dalam jiwa para
sahabat, barulah turun syariat syariat yang merupakan bangunan agama
Islam.
Inti dakwah para nabi
Diutusnya para Rosul merupakan salah satu nikmat
terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Hal ini disebabkan kebutuhan
manusia terhadap dakwah yang dibawa oleh para Rosul sangat mendesak.
Bahwa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat terdapat
pada ajaran yang dibawa oleh para Rosul. Allah ta’ala berfirman, “Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka
sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
(jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar
dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Imron : 164)
Dan kalau kita membaca nash nash yang ada, kita akan mengetahui bahwa inti ajaran para Rosul yang di utus adalah tauhid.Tidaklah seorang Rosul di utus, kecuali menyeru kaumnya kepada tauhid. Allah ta’ala berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (Qs. An Nahl : 34). Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya
aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa
tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah”Hal ini menunjukan pentingnya tauhid.
Bahaya tidak memahami tauhid
Sesorang yang tidak memiliki ilmu tauhid yang benar
mungkin sekali terjatuh kedalam kesyirikan yang merupakan dosa yang
paling besar. Bahkan bisa mengeluarkan pelakunya ke dalam islam. Dia
akan meremehkan perbuatan dosa, bahkan syirik sekalipun. Dia akan
menyangka selama sudah mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia akan
aman. Padahal lihatlah nabi Ibrohim ’alaihi Salam. Imamnya Ahlu
Tauhid, bapak para nabi, penghancur berhala berhala di zamannya.
Meskipun begitu beliau sangat takut terhadap kesyirikan, hingga selalu berdoa kepada Allah meminta dijauhkan dari perbuatan kaumnya yaitu menyembah patung. Allah ta’ala berfirman –menyebutkan doa nabi Ibrohim ‘alaihi salam, “dan jauhkanlah aku dan anak anaku dari menyembah patung” (Qs.
Ibrohim: 35). Ini tentu berdasarkan pemahamannya terhadap makna tauhid
yang benar. Hal ini tidak akan timbul dari orang yang bodoh terhadap
ilmu tauhid.
Perhatian para ulama salaf terhadap Ilmu Akidah
Kalau kita membaca sejarah para pendahulu kita dari
kalangan salaf, kita akan mendapatkan besarnya perhatian mereka terhadap
masalah akidah. Tidak ada yang lebih diperhatikan oleh para ulama salaf
melebihi perhatian mereka terhadap ilmu akidah. Hal ini terlihat dari
banyaknya kitab yang ditulis dalam ilmu akidah.Hal
ini tentu saja berdasarkan pemahaman mereka akan pentingnya ilmu
akidah, serta bahaya yang akan timbul dari kebodohan umat dalam masalah
akidah. Wallahu ‘Alam
Bersambung insya Allah…
***
Catatan kaki